[Wawancara Khusus] Televisi di Hari-Hari Terakhir Presiden Soeharto

Uncategorized

[Wawancara Khusus] Televisi di Hari-Hari Terakhir Presiden Soeharto

Berikut cara mudah untuk membuat website sendiri:

https://client.dewaweb.com/aff.php?aff=25151

 

Nama lengkapnya Ishadi Soetopo Kartosapoetro. Khalayak, terutama yang mengikuti perkembangan dunia komunikasi dan media massa di Indonesia, mengenalnya dengan nama Ishadi SK.

Jejak keterlibatannya di dunia media massa mungkin paling lengkap.  Apalagi di dunia televisi. Namanya menanjak ketika dia menjadi direktur utama Televisi Republik Indonesia (TVRI). Dia juga membidani lahirnya dua stasiun televisi swasta, Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) dan Trans TV.

Ketika tuntutan reformasi menggelinding, Mei 1998, Ishadi SK menjabat sebagai Direktur Jenderal Radio Televisi dan Film (RTF) di Departemen Penerangan.

Pergulatan yang terjadi di ruang redaksi (newsroom) televisi saat terjadi gelombang tuntutan reformasi 1998 menarik minat Ishadi. Dia menjadikan tema ini sebagai bahan disertasi doktor di Universitas Indonesia. Disertasi itu kemudian dibukukan dengan judul: Media dan Kekuasaan; Televisi di Hari-Hari Terakhir Presiden Soeharto.

Jakob Oetama, pendiri Kelompok Kompas dan Gramedia menuliskan kata pengantar di buku itu. Antaralain bunyinya, “Elastisitas dalam media massa pada umumnya sangat dinamis termasuk media televisi. Sehingga, ketika pasca lengser-nya Soeharto, tahun 1998, termasuk TVRI dan RRI yang sebelumnya menjadi satu-satunya pemilik kebenaran informasi, runtuh dan masuk dalam kelompok dan semangat kegiatan jurnalistik umumnya, – termasuk tiga televisi swasta yang didirikan putra-putra Soeharto – menjadi bagian dari lembaga publik seperti halnya televisi dan radio swasta lainnya.”

Jakob melanjutkan, “Mereka (televisi dan radio swasta) ramai-ramai menumbangkan dominasi kekuasaan ideologis dan legitimasi kekuasaan Soeharto. Dalam kasus televisi di Indonesia, ibaratnya anak yang dilahirkan ikut memakan ibu yang melahirkan.”

Disertasi Ishadi adalah catatan rinci di balik layar pergulatan di RCTI, SCTV, dan Indosiar, ketiganya dimiliki oleh keluarga dan pengusaha kroni Soeharto saat itu.

Saat bertemu dengan IDN Times, Selasa, 1 Mei 2018, Ishadi nampak masih enerjik di usianya yang ke-75 tahun. Kami bertemu, mengobrol dan menikmati sajian kedai kopi yang terletak di mal, di kawasan Jakarta Selatan. “Wah, saya jadi nostalgia nih, membaca kembali buku saya,” canda Ketua Umum Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) ini.

Leave a Reply