Ilmuwan Wabah Corona COVID-19 Bukan Salah Kelelawar, tapi Manusia

HOT NEWS KESEHATAN
Ilustrasi kelelawar (iStock)
Ilustrasi kelelawar (iStock)

Kelelawar jadi ‘tersangka’ pemicu Corona COVID-19. Hasil riset mengindikasikan, hewan itu berperan sebagai reservoir virus corona baru atau SARS-CoV-2, sebelum akhirnya menular ke manusia, menyebar sampar ke 181 negara, hingga memicu pandemi global.

Namun, menurut para ahli zoologi dan pakar penyakit, bukan salah kelelawar memicu wabah. Tudingan layak diarahkan pada manusia. Pada kita.

Seperti dikutip dari CNN, Jumat 20 Maret 2020, Pengrusakan habitat alami hewan termasuk kelelawar, mobilitas manusia yang kian tak terbatas di muka Bumi, adalah faktor-faktor yang memungkinkan penyakit yang sebelumnya terkunci di alam kemudian melompat ke manusia.

Sebenarnya, hingga kini, para ilmuwan belum memastikan dari mana asal-usul virus pemicu COVID-19. Pembuktian harus dilakukan dengan mengisolasi virus yang hidup dalam spesies yang dicurigai. Itu sama sekali bukan pekerjaan gampang.

Namun, ada alasan untuk mencurigai kelelawar. Sebab, virus pemicu COVID-19 sebelumnya terlihat pada kelelawar tapal kuda (horseshoe bats) yang ada di China.

Temuan itu membuat para ahli bertanya-tanya, bagaimana penyakit itu berpindah dari komunitas kelelawar, yang jarang tersentuh manusia, hingga menyebar ke seluruh dunia.

Kelelawar adalah satu-satunya mamalia yang bisa terbang. Kemampuan itu memungkinkan hewan itu menyebar dalam jumlah besar di wilayah yang luas, demikian menurut para ilmuwan.

Itu berarti, mereka bisa menampung sejumlah patogen atau penyakit. Kemampuan terbang kelelawar membutuhkan aktivitas dalam jumlah besar, yang membuat sistem imun atau kekebalan tubuh hewan itu menjadi istimewa.

“Ketika terbang, suhu tubuh kelelawar memuncak, yang menyerupai demam,” kata Andrew Cunningham, Profesor Epidemiologi Hewan Liar di Zoological Society, London kepada CNN.

“Hal itu terjadi setidaknya dua kali dalam sehari pada kelelawar, ketika mereka terbang mencari makan dan kembali ke sarang. Sejumlah patogen di tubuh kelelawar kemudian berevolusi untuk bertahan di tengah memuncaknya suhu tubuh itu.”

Cunningham menambahkan, hal tersebut menimbulkan masalah ketika penyakit-penyakit itu melompat ke spesies lain.

Pada manusia, misalnya, demam adalah mekanisme pertahanan yang dirancang untuk menaikkan suhu tubuh yang bertujuan untuk membunuh virus.

Sementara, virus yang telah berevolusi dalam kelelawar mungkin tidak akan terpengaruh oleh suhu tubuh yang lebih tinggi.


Stres pada Kelelawar

Ilustrasi kelelawar.
Ilustrasi kelelawar. Kredit: Stux via Pixabay

Lantas, mengapa penyakit dalam tubuh kelelawar bisa hingga ke manusia.

Jawabannya, menurut Cunningham adalah ‘limpahan zoonotik’ (zoonotic spillover) alias transfer.

Penyebab mendasar zoonotic spillover dari kelelawar atau spesies liar lainnya, hampir selalu bahkan bisa dipastikan mengarah ke perilaku manusia,” kata dia. “Aktivitas manusia yang menjadi pemicunya.”

Cunningham menambahkan, ketika kelelawar mengalami tekanan atau stres — akibat diburu atau habitatnya dirusak oleh deforestasi — sistem kekebalan tubuh hewan mendapat tantangan dan menemui kesulitan untuk mengatasi patogen, yang kemudian mengambil alih.

“Kami meyakini, dampak stres pada kelelawar sangat besar, seperti halnya pada manusia,” kata Cunningham.

Stres memungkinkan infeksi meningkat dan akhirnya dilepaskan. “Seperti ketika seseorang sedang stres dan terpapar virus radang dingin, ia akan mengalami radang dingin.” Hal serupa juga bisa terjadi pada kelelawar.

Terkait COVID-19, episentrum wabah diduga bermula dari sebuah pasar di Wuhan, Provinsi Hubei, di mana hewan-hewan liar dijajakan sebagai binatang peliharaan atau bahan makanan, percampuran spesies juga virus bisa terjadi.

“Ketika hewan-hewan itu dikirim atau dikurung di pasar, dekat dengan hewan lain juga manusia, ada kemungkinan virus-virus dilepaskan dalam jumlah besar,” kata Cunningham.

Tak hanya kelelawar, hewan-hewan lain juga lebih rentan terhadap infeksi dengan alasan yang sama: mereka stres.

Hal serupa diungkapkan Kate Jones, Ketua Bidang Ekologi dan Keanekaragaman Hayati di University College London.

Menurut dia, saat ini, tingkat pengangkutan hewan oleh manusia ada pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tujuannya sangat beragam, penelitian, medis, peliharaan, juga bahan makanan.

Kita juga menghancurkan habitat mereka menjadi lanskap yang didominasi manusia. Hewan-hewan campur aduk, dalam cara aneh yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di pasar, misalnya, hewan-hewan dikurung dalam kandang dan ditumpuk satu sama lain.


Diperparah Mobilitas Manusia

Ngumpul Bersama Teman
Ilustrasi Foto Aktivitas Diluar Ruang (iStockphoto)

Kedua ilmuwan, baik Andrew Cunningham maupun Kate Jones menjelaskan bagaimana limpahan zoonotik (zoonotic spillover) bisa menjadi masalah global seperti yang terjadi pada COVID-19.

Zoonotic spillover dari hewan-hewan liar terjadi sepanjang sejarah. Namun, dulu, mereka yang terinfeksi mungkin meninggal dunia atau pulih sebelum kontak dengan orang lain,” kata Cunningham.

Kini berbeda. “Dengan alat transportasi bermotor dan pesawat terbang, dalam satu hari orang bisa ada di hutan di Afrika dan ke kota besar seperti London pada keesokan harinya.”

Jones menambahkan, limpahan zoonotik yang mungkin terjadi diperbesar dampaknya dengan kondisi manusia saat ini, dengan mobilitas tanpa batas dan saling terhubung satu sama lain.

Cunningham dan Jones mengatakan, ada dua hal yang bisa dan harus dijadikan pembelajaran bagi manusia.

Pertama, kita tidak bisa menyalahkan kelelawar. Hewan itu justru bisa menyediakan solusi bagi manusia.

“Adalah hal yang mudah menyalahkan spesies inang,” kata Cunningham.

“Nyatanya, cara kita berinteraksi dengan mereka (kelelawar) yang memicu pandemi dan penyebaran patogen.”

Apalagi, kata dia, sistem kekebalan tubuh pada kelelawar belum dipahami dengan baik oleh manusia. Padahal, itu mungkin menyediakan petunjuk penting.

“Memahami bagaimana kelelawar mengatasi patogen dapat bisa jadi pelajaran bagi kita untuk menghadapinya, jika penyakit tersebut menyebar ke manusia.”


Kerusakan Lingkungan Membunuh Manusia dengan Cepat

[Bintang] Hari Bumi: Momentum Memperluas Gerakan Penyelamatan Lingkungan Hidup
Ini yang diminta Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) kepada pemerintah di Hari Bumi. (Ilustrasi: SoCore Energy)

Wabah COVID-19 bisa jadi bukan satu-satunya penyakit yang memberikan kejutan yang tak diharapkan bagi manusia.

Cunningham dan Jones sepakat, solusi untuk mengubah perilaku manusia adalah cara yang lebih mudah daripada mengembangkan vaksin untuk membendung penyebaran virus-virus baru di masa depan.

Virus Corona baru yang memicu pandemi COVID-19 mungkin adalah peringatan pertama dan jelas bagi umat manusia bahwa kerusakan lingkungan juga bisa membunuh manusia dengan cepat. Hal serupa bisa terjadi nanti, dengan cara serupa.

“Ada puluhan ribu virus yang menanti giliran untuk disingkap,” kata Cunningham. “Yang harus kita lakukan adalah memahami di mana poin kendali kritis zoonotic spillover dari satwa liar berada, untuk menghentikannya. Itu adalah cara uang paling efektif dan hemat untuk melindungi manusia.”

Jones menambahkan, ketika kerusakan lingkungan bisa memicu bahaya nyata yang mengancam umat manusia, memulihkan habitat satwa-satwa liar adalah solusinya.

Yang jelas, pelajaran utama dari pandemi COVID-19 adalah kerusakan Bumi bisa menghancurkan manusia, lebih cepat dan lebih dahsyat, dari perubahan iklim yang terjadi secara gradual.

“Sama sekali bukan langkah bijak mengubah hutan jadi lahan pertanian tanpa memahami dan mengantisipasi dampaknya pada iklim, penangkapan dan penyimpanan CO2 (carbon storage), kemunculan penyakit, dan risiko banjir,” kata Jones.

Hal ngawur yang dilakukan sejumlah orang bisa berdampak luas pada umat manusia. Dalam skala masif dan mematikan.

Leave a Reply