Ekonom Peringatkan Meningkatnya Risiko Resesi

EKONOMI

Gedung Federal Reserve

Perkembangan dunia perekonomian belakangan ini memunculkan risiko terhadap pertubuhan pertumbuhan ekonomi global. Risiko terjadinya resesi atau perlambatan pertumbuhan akan semakin meningkat tahun depan. Pada 2017, pertumbuhan ekonomi global berada pada posisi 3,8 persen. Sementara pada tahun ini ditargetkan dapat mencapai 3,9 persen berdasarkan prediksi International Monetary Fund ( IMF). Konsultan keuangan Porta Advisors Beat Wittman mengatakan meningkatnya ketegangan dalam dunia perdagangan, serta berbagai isu geo politik lain yang sedang berekembang dapat mengancam target pertumbuhan ekonomi tahun ini. “Risiko resesi global tahun 2019 ini dipastikan akan meningkat,โ€ ujar dia, dikutip melalui cnbc.com, Rabu (4/7/2018) Baca juga: Menakar Potensi Terjadinya Krisis Keuangan 10 Tahunan di 2018 Meskipun saat ini, kondisi perekonomian global sedang berada pada fase normalisasi. Namun, pada saat yang bersamaan juga harus berhadapan dengan eskalasi ketegangan perdagangan global, ditambah lagi dengan adanya Brexit (British Exit). “Semua kondisi ini mengarah pada hilangnya kepercayaan terhadap investasi, dan investasi yang dimaksudkan benar-benar mengenai investasi di dunia ekonomi,” ujar Wittman memperingatkan. Beberapa bank sentral telah mengakhiri kebijakan-kebijakan era krisis mereka yang bersifat akomodatif, diindikasikan dengan The Federal Reserve (Bank Sentral Amerika Serikat) yang meningkatkan suku bunga mereka. Pada saat yang bersamaan, AS juga telah menerapkan tarif baru terhadap rekanan dagang mereka, banyak negara yang dikenai tarif pun membalas AS dengan perlakuan yang sama.

erikat Ketegangan dalam dunia perdagangan akan terus berlanjut seiring dengan Eropa yang sedang menggodok kebijakan baru terkait tarif untuk sektor otomotif mereka. Managing Director IMF Christine Lagarde mengatakan, risiko perekonomian global akan meningkat jika telah memasuki “Euro zone.” Wittman pun memperingatkan rencana ekspansi kebijakan fiskal AS yang dapat meningkatkan defisit pemerintahan mereka, serta dampak dari pemilihan umum beberapa pemimpin di dunia. Dengan berbagai latar belakang kondisi global seperti saat ini, akan sangat sulit untuk dapat mendorong investor berinvestasi di pasar saham.
i

Leave a Reply