Cerita Petani Akan Tertatanya Lahan Persawahan di Jatiluwih

HOT NEWS
https: img-o.okeinfo.net content 2019 10 16 320 2117640 cerita-petani-akan-tertatanya-lahan-persawahan-di-jatiluwih-JZjx5lE0ov.jpg

BALI – Mungkin belum banyak yang tahu mengenai Jatiluwih. Sebuah desa dengan pemandangan sawah berundak yang hijau nan sejuk di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali.

Ya, kali ini Okezone mendapat kesempatan bersama Kementerian Pertanian (Kementan) untuk menengok indahnya argo eco tourism tersebut. Sebuah area persawahan berundak yang dikelola mandiri oleh para petani lokal yang kini familiar dengan nama Jatiluwih Rice Terrace.

Baca juga: Si Beneng, Talas Jumbo Pandeglang Menembus Belanda

Salah seorang Ketua Kelompok Tani Jatiluwih, I Wayan Mustra menjelaskan, di sini ada banyak petani yang mengelola area persawahan berundak. Dia mengatakan, satu kelompok tani terdiri dari 10 hingga 20 orang petani.

Pertanian Jatiluwih (Fiddy)

“Di sini semua kepemilikan sawah pribadi semua. Pengairannya menggunakan Subak. Kami kelompok tani, mengelola pupuk sendiri dan tidak menggunakan pestisida, makannya udaranya segar,” kata Wayan saat berbincang dengan Okezone, Selasa 15 Oktober 2019.

Dia menceritakan, para petani di Jatiluwih biasa mengolah pupuk yang berasal dari kotoran sapi. Proses pengolahan kotoran sapi jadi pupuk, kata Wayan, idealnya memakan waktu 3 sampai 4 bulan.

“Di sini panen padi 2 kali setahun, yaitu Januari dan Agustus,” tuturnya.

Pertanian jatiluwih 2 (Fiddy)

Dalam pengelolaan sawah berundak di Jatiluwih, Wayan dan para petani ingin tetap menjaga kelestarian alam. Baik dari sisi keasriannya maupun budayanya.

“Budaya di sini dalam artian Subak di Bali, yang kental dengan upacara adatnya. Perairan sawah di sini semua dari Subak. Walau kemarau, air tetap ada meski debitnya hanya sepertiga dari saat musim penghujan,” ucap Wayan.

Wayan menjelaskan, total area lahan pesawahan di Jatiluwih mencapai sekira 303 hektare. Namun, yang efektif ditanami padi sekira 227 hektare. Sisanya, kata Wayan dibuat kandang sapi dan jalan untuk lintasan wisatawan.

Wisatawan lokal dan mancanegara, lanjut Wayan, justru senang berkunjung ketika musim panen di Jatiluwih tiba. “Kalau panen di sini tidak ditutup, justru wisatawan senang jika sedang proses panen. Mereka ingin merasakan mencabut padinya. Di sini wisatawan yang dominan dari Eropa seperti Prancis. Kalau Asia dari Korea, Taiwan dan Jepang yang banyak datang,” urainya.

Pertanian Jatiluwih (Fiddy)

Saat ditanya apa yang masih menjadi kendala dalam pengelolaan sawah berundak di Jatiluwih? Wayan menuturkan, ada sedikit permasalahan, yaitu pasca-panen. “Kita belum ada produk olahan dan di pemasaran masih ada kendala. Mudah-mudahan dengan koperasi subak yang baru kita bentuk sehingga produk pertanian kita bisa dipasarkan lebih baik. Sejauh ini pemasaran kita masih di lokal Bali saja,” ungkap Wayan.

Sementara Kepala Biro Humas Kementan, Kuntoro Boga Andri mengatakan, di sini pihaknya ingin menunjukan bahwa sektor pertanian itu tidak berdiri sendiri. Ada beberapa aspek seperti budaya, pariwisata dan kelestarian alam. Menurut dia, yang terpenting dari semua kombinasi itu memberikan manfaat dan nilai tambah bagi masyarakat lokal di Jatiluwih.

“Kawasan padi Jatiluwih sudah masuk dalam warisan kekayaan dunia untuk sistem pengairan subaknya,” turur Boga.

Sistem padi di sini, sambung Boga, memang dikelola secara organik. Pendekatannya lebih kepada mempertahankan budaya dan tradisi. “Jadi walaupun diberikan masukan soal pemanfaatan teknologi dalam penanaman padi, tapi mereka tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi. Jadi sistem bertaninya tidak merusak lingkungan, tidak menggunakan bahan kimia, produknya adalah tanaman organik,” papar dia.

Boga mengungkapkan, tanpa adanya produk kimia, udara di Jatiluwih jadi lebih bersih dan segar, lingkungan pun tidak tercemar. Kemudian yang terpenting adalah kelestarian alam.

“Kawasan ini luar biasa, karena menambah nilai ekonomi sebagai argo eco tourism bagi masyarakat dan petani di sini. Harapan kami tentu kawasan pertanian ini bisa dipertahankan dengan proteksi,” terang dia.

“Kemudian, perbaikan pengendalian hama penyakit. Kita bisa memperkenalkan teknologi organik dari biji-bijian hingga kencing kambing dan sapi untuk mengendalikan hama pengganggu tanaman,” kata Boga menutup pembicaraan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *