Bisnis Es Krim Ikan Nila Rasanya Bikin Kantong Segar

https: img-k.okeinfo.net content 2019 10 12 320 2116165 bisnis-es-krim-ikan-nila-rasanya-bikin-kantong-segar-wjEkrCmTrG.jpeg

JAKARTA – Lima mahasiswa Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang bernama Silvia Indriyani, Novita Rizky Maryani, Rahmayanti, Monika dan Relvin berhasil memproduksi es krim dengan bahan ikan nila.

Produk tersebut diberi nama Mirai Food. Es krim tersebut di banderol dengan harga Rp5.000 dan ada banyak varian rasa yang ditawarkan.

Menurut Silvia, dirinya memilih ikan nila sebagai bahan dasar es krim karena ikan tersebut dinilai kaya akan gizi dan bermanfaat untuk tubuh.

Ide es krim dengan bahan dasar ikan nilai ini lahir dari keresahan mereka yang melihat anak-anak gemar mengkonsumsi es krim. Sayangnya, nilai gizi dari es krim tersebut masih minim, maka dari itu mereka menciptakan inovasi ini.

Untuk memulai bisnis es krim ikan nila, wirausaha muda ini membutuhkan modal Rp500.000. Jika dihitung-hitung, mahasiswa ini bisa mengantongi keuntungan dari penjualanes krimikan nila sebesar Rp200.000. Belum ditambah dengan keuntungan lain ketika ada pesanan di acara pernikahan.

Mengintip Perputaran Uang dari Bisnis Keripik Mangrove

https: img-k.okeinfo.net content 2019 10 13 320 2116295 mengintip-perputaran-uang-dari-bisnis-keripik-mangrove-6MMuo1Ioaz.jpg

 Mahasiswa Politeknik Kelautan dan Perikanan, Pangandaran, Fajar Alhabsi, Erinatisia, Ervina Rahmasari, Primadina dan Fani Muhammad berhasil mengembangkan keripik mangrove dari bahan dasar daun Jeruju.

Erina menjelaskan ide membuat keripik mangrove yang diberi nama Djeruzu ini muncul karena potensi mangrove di Indonesia sangat berlimpah terutama di pesisir pantai Pangandaran yang banyak ditanami daun Jeruju.

“Kita terinspirasi dengan tanaman mangrove yang ada di sekitar kampus, jadi kita memiliki inovasi untuk mengolah Jeruju sebagai makanan. Selama ini kan masyarakat hanya melihat fungsi ekologisnya saja dari mangrove,” ujar Erina saat ditemui di acara Workshop Kewirausahaan Sektor Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Bisnis yang diketuai oleh Fajar Alhabsi ini memilih daun Jeruju sebagai bahan dasar utama produknya karena daun Jeruju dinilai terdapat banyak kandungan salah satunya asam amino sebagai pencegah kanker, pembersih darah dan anti radang.

Keripik Mangrove

Erina mengaku bahwa hambatan yang mereka alami selama memproduksi makanan ini hanya ada di jarak antara pasar tempat membeli alat-alat pembuat keripik, jadi membutuhkan waktu yang lama untuk memproduksi keripik ini.

Asal tahu saja, untuk membuat satu produk chips mangrove dengan berat 24 kg mereka akan menghabiskan dua malam untuk proses pengolahan bahan-bahannya.

Selain itu, modal yang dibutuhkan para wirausahawan ini sebesar Rp11.000 per kaleng dan dijual Rp17.000 per kaleng, lalu 10% dari penjualan mereka juga digunakan rehabilitas penanaman mangrove.

Keunggulan dari keripik mangrove ini juga terdapat di kemasan produk yang menggunakan kaleng yang dinilai bisa didaur ulang kembali dan tentunya ramah lingkungan.

Tak hanya itu, mereka juga memiliki strategi dalam mempromosikan produk mereka dengan cara dua tahap, yaitu retail dan sosial media.

“Kita melakukan dua tahap dalam strategi promosi, yang pertama retail dengan menaruh dagangan kami di sekitar kawasan ekowisata Pangandaran, dan yang kedua media sosial seperti Facebook, Instagram dan Whatsapp,” ujar Erina.

Mereka berharap dengan adanya produk ini bisa menjadi motivasi bagi masyarakat untuk meningkatkan minat dalam mengelola tanaman mangrove dan dapat dikembangkan kembali.