Bergulat dengan Petugas di Atap Rumah Tolak Tanah Digusur untuk Bandara

: Empat Satpol PP dan seorang petugas bergulat dengan Sumiyo yang bertahan di atas genteng rumah.  Ia tak mau digusur.

Perlawanan warga berkembang seiring upaya pengosongan lahan pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kecamatan Temon, Kulon Progo, Yogyakarta. Sumiyo (53) bahkan nekat mempertahankan rumah dengan menaiki atap dan berdiri di genteng rumah. Ia membangunkan dan menguji orang yang ingin Mendekat, sambil bertahan dengan memeluk tiang listrik pada atap. Empat anggota dari Satuan Polisi Pamong Praja Kulon Progo dan seorang polisi Provos membain. Kelimanya menaiki atap rumah dengan bantuan belalai ekskavator. Sumiyo tetap bertahan sebisanya melawan dengan menendang genteng-genteng. Seorang anggota Satpol PP, Gita Haryana mengatakan, usahanya membujuk tidak berhasil. “Saya bilang ke dia, bapak bawah dan semua jadi lebih enak. Kita ini takutnya yang jatuh,” kata Gita, Jumat (20/7/2018). Bujukan gagal. Pergulatan terjadi di puncak atap. Sumiyo melawan sambil berpegangan pada tiang listrik atap rumah. Drama dan pergulatan itu berlangsung hingga setengah jam. Polisi dan 4 anggota Satpol PP itu sampai harus menghubungkan tangan dan kaki Samiyo di atas rumah lantas turunnya dengan kuku ember. “Tenaganya kuat sekali,” kata Dedi, salah satu anggota Satpol PP yang ikut menurunkan Sumiyo. Setelah diturunkan, Sumiyo segera dilepas. Penggusuran rumah-rumah warga yang berjuang di tanah pembangunan Bandara NYIA pada Jumat ini menyasar 33 rumah warga di izin penetapan lokasi (IPL) NYIA ini. Polisi dan 4 anggota Satpol PP itu sampai harus menghubungkan tangan dan kaki Samiyo di atas rumah lantas turunnya dengan kuku ember. “Tenaganya kuat sekali,” kata Dedi, salah satu anggota Satpol PP yang ikut menurunkan Sumiyo. Setelah diturunkan, Sumiyo segera dilepas. Penggusuran rumah-rumah warga yang berjuang di tanah pembangunan Bandara NYIA pada Jumat ini menyasar 33 rumah warga di izin penetapan lokasi (IPL) NYIA ini. Polisi dan 4 anggota Satpol PP itu sampai harus menghubungkan tangan dan kaki Samiyo di atas rumah lantas turunnya dengan kuku ember. “Tenaganya kuat sekali,” kata Dedi, salah satu anggota Satpol PP yang ikut menurunkan Sumiyo. Setelah diturunkan, Sumiyo segera dilepas. Penggusuran rumah-rumah warga yang berjuang di tanah pembangunan Bandara NYIA pada Jumat ini menyasar 33 rumah warga di izin penetapan lokasi (IPL) NYIA ini.

Lebih dari 30 kepala keluarga bertahan mendiami rumah. Mereka melakukan perubahan dari pemerintah untuk membebaskan IPL, status hukum tanah sudah kembali ke negara. Angkasa Pura I (Persero) dan PP memutuskan untuk memeriksanya, memberi rumah tinggal sementara di rumah-rumah sewa, lantas menggusur rumah mereka di IPL. Banyak ekskavator dikaburkan untuk mempercepat perobohan tidak hanya rumah, tetapi juga sapi, pohon kelapa, melinjo, mangga, hingga pohon jati yang masih muda. Upaya membersihkan lahan itu juga mempengaruhi ratusan orang, baik TNI-Polri, relawan angkat barang, hingga mobil truk.

Semua mendapat hambatan dari warga yang menolak pembangunan bandara. Penggusuran nyata sudah berlangsung sejak Kamis (19/7/2018) kemarin. Sebanyak 17 dari 33 rumah sudah digusur sehari sebelumnya. Penggusuran kembali sehat hari ini. Salah satu yang paling banyak adalah rumah-rumah yang masuk ke Dusun Sidorejo, Desa Glagah, Temon. Warga melawan dengan beragam cara, termasuk Sumiyo. Ada yang terus menghujat, ada pula yang terus ditambah polisi dan Satpol PP dengan pasir. Ada juga yang berontak, bahkan melukai beberapa Satpol PP dengan cara menggigit. Tidak ikhlas Sumiyo mengaku rumah itu adalah peninggalan orang tuanya. Di rumah itu, tinggal 2 kepala keluarga, yaitu Sumiyo dan salah seorang perzinahan yang sudah berkeluarga. Sebagai rumah peninggalan, ia berniat mempertahankan sebisanya. “Intine niki griyo kulo, dibrukke ora iklas. Urip menjadi temurun kok dirampas. (Intinya ini rumah saya, dirobohkan tidak ikhlas. Hidup turun temurun kok dirampas), “kata Sumiyo tak lama sesudah kantor. Sumiyo mengaku tidak akan menerima apapun untuk pemerintah untuk tanah dan udara menjadi lahan bandara. kehendak merobohkan rumah. “Ini pembongkaran paksa. Dari semula pilihannya hanya diperlakukan atau menolak. (Bertahan) dengan ini warisan orang tua, “kata Sumiyo. Sumiyo mengaku tersakiti untuk kesekian kali. Satu bulan kemudian, ia mempertahankan lahan garapan cabai yang juga berada di tengah IPL.” Cabai tinggal petik dipanen, malah disorok (digusur), “katanya Baca juga: Sumiyo ngebut akan bertahan di situ. Ia akan mendirikan tenda, menitipkan barang-barang miliknya ke rumah tetangga, dan akan kembali bercocok tanam di tanahnya. Ia tidak menerima solusi dari pihak manapun, termasuk menerima ganti rugi. “Kami akan berusaha bikin tenda. Ini hak dan tanah saya. Saya tidak bersedia tinggal di situ (rumah relokasi),” katanya.

Slimming Candy (Permen Pelangsing) http://idx8.xyz/r/1180/63739/

Masker Wajah (Skinlight Spirulina)   http://idx7.xyz/r/1198/63739/    

Cara mudah untuk membuat situs web sendiri: https://client.dewaweb.com/aff.php?aff=2
Kartu chip ajaib penghemat pulsa   http://idt8.com/r/1253/63739

http://idt8.com/r/1447/63739/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares